Inpres Guru: Upaya Perbaikan Kualitas dan Kuantitas Pendidikan
Pada era 1970-an, Indonesia meluncurkan program Instruksi Presiden (Inpres) yang ambisius untuk pendidikan dasar, dikenal sebagai Inpres Sekolah Dasar (SD) dan Inpres Guru. Program ini merupakan upaya perbaikan masif yang didorong oleh kebutuhan mendesak untuk meningkatkan angka partisipasi sekolah dan mengatasi kekurangan guru yang signifikan, terutama di daerah terpencil.
Inpres SD berfokus pada pembangunan ribuan gedung sekolah baru di seluruh nusantara. Namun, keberadaan gedung tanpa tenaga pengajar yang memadai akan sia-sia. Oleh karena itu, Inpres Guru diluncurkan sebagai upaya perbaikan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik. Program ini merekrut dan menempatkan puluhan ribu guru baru dalam waktu singkat.
Tujuan utama upaya perbaikan ini adalah menjangkau anak-anak di seluruh Indonesia, memastikan mereka mendapatkan akses minimum terhadap pendidikan dasar. Program rekrutmen guru dilakukan secara besar-besaran, seringkali dengan pelatihan yang singkat. Prioritas saat itu adalah kuantitas untuk mengisi kekosongan ruang kelas.
Meskipun sukses dalam aspek kuantitas dan aksesibilitas, program Inpres Guru menghadapi tantangan serius terkait kualitas. Pelatihan yang cepat dan masif, ditambah dengan penempatan di lokasi yang jauh dari fasilitas, sering kali menghasilkan guru dengan kualifikasi dan kompetensi yang belum optimal. Ini menjadi dilema utama dari upaya perbaikan tersebut.
Pemerintah kemudian harus memulai upaya perbaikan lebih lanjut untuk mengatasi isu kualitas ini. Berbagai program penyegaran, pelatihan dalam jabatan, dan peningkatan gelar akademik diluncurkan. Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam pembangunan fisik (sekolah) harus selalu diimbangi dengan investasi pada sumber daya manusia (guru).
Kasus Inpres Guru memberikan pelajaran berharga bagi pembangunan pendidikan nasional. Bahwa aksesibilitas (kuantitas sekolah) dan mutu (kualitas guru) harus berjalan beriringan. Upaya perbaikan yang fokus pada salah satu aspek saja cenderung menciptakan masalah baru di masa depan.
Dampak jangka panjang dari Inpres Guru adalah basis melek huruf yang lebih luas dan peningkatan angkatan kerja terdidik di Indonesia. Namun, warisan tantangan mutu tetap relevan hingga kini, mendorong terus dilakukannya reformasi sistem pendidikan dan pelatihan guru yang lebih terstruktur.
Pada akhirnya, upaya perbaikan melalui Inpres Guru adalah langkah darurat yang vital pada masanya. Ia berhasil membuka pintu sekolah bagi jutaan anak Indonesia, meletakkan fondasi pendidikan yang penting, meskipun meninggalkan pekerjaan rumah besar mengenai peningkatan mutu berkelanjutan bagi para pendidiknya.
